Seputar Islam
Boleh Berhutang Untuk Qurban Tapi Lakukan 1 Syarat Ini

Boleh Berhutang Untuk Qurban Tapi Lakukan 1 Syarat Ini
Selalu ada hikmah dibalik perintah Allah. Hikmah yang terkandung didalamnya terkadang hikmah datang tidak diwaktu yang cepat. Sama halnya seperti ibadah Qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail. Idul Qurban sebentar lagi, kira kira boleh tidak yah berhutang untuk qurban?

Selalu ada hikmah dibalik perintah Allah. Hikmah yang terkandung didalamnya terkadang hikmah datang tidak diwaktu yang cepat. Sama halnya seperti ibadah Qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail.  Idul Qurban sebentar lagi, kira kira boleh tidak yah berhutang untuk qurban?

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad 8273, Ibnu Majah 3123, dan sanad hadits  dihasankan al-Hafizh Abu Thohir).
 
Bagaimana jika berutang karena tidak mampu?
Sebagian ulama secara tegas menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang.

Imam Sufyan ats-Tsauri menceritakan,  bahwa Abu Hatim berutang untuk membeli seekor onta. Ketika ditanya, mengapa sampai utang? Jawab beliau, ”Saya mendengar firman Allah,
 
”Kalian akan mendapatkan kebaikan dari sembelihanmu itu.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/426).
 
Artinya, beliau meyakini, Allah akan memberi ganti dari upaya beliau dengan berutang untuk qurban.
 
Saran ini berlaku jika dia memiliki penghasilan dan memungkinkan untuk melunasi utangnya. Tapi jika dia tidak berpenghasilan, atau sudah punya banyak utang, sebaiknya menambah beban utangnya. Meskipun untuk ibadah.
 
Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455).
 
Dalam Majmu’ Fatawa, beliau juga ditanya tentang hukum utang untuk qurban. Beliau mengatakan,
 
Ketika seseorang tidak memiliki dana untuk qurban di hari ‘id, namun dia berharap akan mendapatkan uang dalam waktu dekat, seperti pegawai, ketika di hari ‘id dia tidak memiliki apapun. Namun dia yakin, setelah terima gaji, dia bisa segera serahkan uang qurban, maka dalam kondisi ini, dia boleh berutang. Sementara orang yang tidak memiliki harapan untuk bisa mendapat uang pelunasan qurban dalam waktu dekat, tidak selayaknnya dia berutang.
 
Beliau menyebutkan alasannya,
 
Jika tidak ada harapan untuk melunasinya dalam waktu dekat, kami tidak menganjurkannya untuk berutang agar bisa berqurban. Karena semacam ini berarti dia membebani dirinya dengan utang, untuk diberikan kepada orang lain. Sementara dia tidak tahu, apakah dia mampu melunasinya ataukah tidak. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 25/110)
 
Kecuali jika di suatu masyarakat, kegiatan qurban ini tidak digalakkan. Karena mungkin rata-rata mereka tidak mampu, atau mereka terlalu pelit sehingga keberatan untuk berqurban, maka dia dianjurkan untuk utang, apapun keadaannya, dalam rangka menghidupkan sunah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk berqurban.
 
Ini sebagaimana yang disarankan Imam Ahmad, bagi orang yang tidak memiliki biaya aqiqah, agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran. Imam Ahmad mengatakan,
 
”Jika dia tidak memiliki biaya untuk aqiqah, hendaknya dia berutang. Saya berharap agar Allah menggantinya karena telah menghidupkan sunah.” (al-Mughni, 11/120).
 
Allahu a’lam.
Sumber: konsultasisyariah.com








Seputar Islam Lainnya
Mengintip Kisah Guru Besar Indonesia, Buya Hamka
Mengintip Kisah Guru Besar Indonesia, Buya Hamka
Jum'at, 25 November 2016 03:37 WIB
Ayah Bunda, nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah cukup asing di telinga masyarakat, bahkan di kalangan sastrawan. Namun, ketika nama Buya Hamka disebut, tentu orang familiar sosoknya. Pahlawan Nasional ini popular sebagai seorang ulama, pujangga, pejuang kemerdekaan, anggota Konstituante, aktivis Muhammadiyah, dan akademisi.
TATA CARA SHALAT GERHANA
TATA CARA SHALAT GERHANA
Jum'at, 27 Juli 2018 03:28 WIB
Sahabatku, bagi siapa saja yang melihat gerhana dengan mata telanjang, maka ia wajib melaksanakan shalat gerhana.
Dari Malam ke Malam Jumat
Dari Malam ke Malam Jumat
Jum'at, 17 November 2017 11:09 WIB
Banyak dari Kita menghabiskan waktu dari pagi sampai malam untuk kepentingan dunia. Kita bekerja dengan dalih untuk membuat dapur menyala. Kita lupa bahwa bekerja adalah usaha sedangkan rejeki adalah murni karunia Allah SWT.
6 Amalan Bulan Dzulhijjah Sesuai Sunnah
6 Amalan Bulan Dzulhijjah Sesuai Sunnah
Kamis, 24 Agustus 2017 11:50 WIB
Ayah Bunda sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas. Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”

Perlu Bantuan?

Hai, Saya Arifunasiin Anda memerlukan bantuan saat belanja produk? Asisten belanja Anda siap membantu Anda, atau Anda membutuhkan informasi lebih lengkap tentang produk-produk kami silahakan hubungi saya.

Hubungi Saya Tentang Saya